23 November 2013

Again and Again



Lagi membenci dengan apa yang menimpa sepekan ini. Banyak banget kesalahan yang terjadi, yang sebagian besar karena dateng dari saya sendiri *sigh* 

Semacam sudah ditakdirkan bahwa minggu ini akan menjadi minggu yang paling penuh kesalahan. Karena kalau boleh membela diri, Saya sudah merasa semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dan tidak melakukan kesalahan lagi. 

Tapi nyatanya..?

I'm  trouble Maker >__<



Ah, sudahlah...

Intinya minggu ini, Saya benar-benar kacau. Dan satu-satunya kekuatan yang masih tersisa dalam diri, bahwa saya masih punya harapan untuk tetap hidup. Bahwa semua kesalahan yang saya lakukan, tidak akan membunuh saya, tapi akan menjadi semacam pelajaran untuk bisa berbuat yang lebih baik lagi.

Ya semoga, masih diberikan kekuatan dan kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan. Membenahi diri sendiri, yah setidaknya. 

Semoga. 

Amiinn

17 November 2013

Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan






Kita tak semestinya berpijak diantara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa kemana

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi


- Payung Teduh-

Ketika memberi pelajaran penting pada diri sendiri. Menjadi hal yang sering terabaikan.



Saya sedang belajar pada diri saya sendiri.

Ya, tak perlu bingung. Saya sedang belajar mengenal diri sendiri. Mengenalinya, dan mengakrabkan diri dengan diri sendiri. 

Akhir-akhir ini saya merasa terlalu sering mengabaikan diri sendiri. Terutama soal apa yang sesungguhnya saya rasakan *tsaah* 

Entahlah... 
Saya cuma merasa, bahwa selama ini saya terlalu banyak berusaha menyenangkan orang-orang yang ada disekitar saya. Yah, meski itu hal bagian yang memang harus dilakukan oleh kita sebagai mahluk sosial, penegasan tentang keberadaan kita. 

Tapi saya merasa, saya mulai too much dalam hal ini.

Atau berangkali ini hanya perasaan sesaat aja kali yah..? hihihihihi..... 

Dan ataukah saya mulai merasa terlalu banyak dikecewakan atas semua yang telah saya lakukan pada orang-orang yang disekitar saya ..? 

Untuk yang satu ini, saya sangat berharap : SEMOGA TIDAK!!

Karena sesungguhnya ini sangat mengerikan. Karena kalau, Iya. Berarti saya hidup selama ini, ngga ikhlas banget dalam melakukan segala hal. Termasuk semua hal yang saya lakukan dan saya anggap baik yang pernah saya berikan pada orang-orang disekitar saya.

*sigh* 

Kembali kepersoalan memberi pelajaran pada diri sendiri. Yups banget saya sedang belajar melatih diri untuk tidak mengeluh pada hal-hal kecil yang seringkali begitu mudahnya merusak hari-hari saya. 

Don't let little, stupid things break your happiness...

Don't let little, stupid things break your happiness.. sebuah matra yang akhir-akhir ini sering saya hujamkan ke kepala. Tiap kali ada hal-hal kecil yang berpotensi banget buat ngerusak kebahagiaan yang sedang digenggam. Yah meski tidak tiap kali berhasil lolos sih... :p 

Tapi itu tadi, saya sedang belajar untuk memberi pelajaran pada diri sendiri, untuk janganlah kebanyakan ngeluh terutama untuk hal-hal yang kecil. 

Juga belajar melapangkan dada  selebar-lebarnya (melapangkan dada, serasa ganjal dengan kalimat ini deh, hahahhah ) husst, fokuss oiii..!!!  untuk nerima segala hal-hal yang mungkin mengecewakan tidak sesuai harapan. 

Yah tidak semua hal harus berjalan sesuai harapan kita kan..? 

Meski yah kita semua tentu berharap, bahwa semua (harus) berjalan sesuai dengan apa yang kita mau, dengan apa yang sudah kita rencanakan mateng-mateng jauh-jauh hari. 

Kita mesti siap  untuk kecewa, tapi mesti juga harus lebih siap untuk menerima itu semua dengan lapang dada.

Oke, saya kembali menggunakan kalimat yanga ada -dada-nya, hahhahahaa


Oh yah, saat nulis kalimat barusan di atas saya ngakak sendiri depan kompi. sebuah kebahagiaan tersendiri. Bisa mentertawakan diri sendiri :))  

Btw yang semua yang saya tulis, tidak serta merta membuat saya untuk tidak lagi mengeluh, menjadi manusia superbiasa ikhlasnya, ridho terhadap segala hal. 

Hai Guys, saya ngga mau jadi malaikat yang hanya diprogramkan hanya melakukan hal yang baik-baik saja. hahahha.. 

 Selama saya menjadi manusia, segala hal buruk yang menjadi naluri yang dimiliki oleh manusia. Termasuk didalamnya soal mengeluh. Tentu tidak akan sirna dari diri saya. Yah selama tentunya saya tetap mau menjadi manusia :p 

Intinya sih, saya cuma ingin mengurangi hal-hal buruk yang sering saya lakukan, dan sebenarnya bisa saya kendalikan. Hanya persoalan kebiasan buruk yang harus dihilangkan. 

Menjadi lebih baik dari hari ke hari, melakukan lebih banyak hal-hal yang baik, lebih begunalah. Dan terutama lebih menyayangi diri sendiri. Lebih respect. Bahwa hidup tidak semata-mata menyenangkan orang lain. Tapi juga diri sendiri. 

Yah segala hal harus dimulai dari diri sendiri kan..? 


Happy weekend Guys!

Merdeka!! 


 
 


3 November 2013

Quarter Life crisis


Saya pernah bahas  secara random soal,' Quarter life crisis' di sini. Saat itu saya belum yakin kalau sedang masuk dalam fase Quarter life crisis  hanya menduga-duga, apakah sedang terserang penyakit 'Quarter Life Crisis' atau tidak? atau lebih kasarnya sedang ikut-ikutan merasa dalam sarang ' Quarter Life Crisis' padahal sebenarnya sih, saya lagi galau berat, hihihihi

Semacam doa yang terkabulkan, belakangan ini saya kembali dihantui tentang, ' Quarter Life Crisis'. Awalnya saya menepiknya dengan memperbanyak syukur. Tapi toh saya tidak bisa membohongi sebuah kenyataan yang terpampang nyata cetar membahana di depan mata (iya, barusan tadi pake istilahnya teteh Syarini) bahwa akhir-akhir ini saya mulai mempertanyakan banyak hal yang ada dalam diri saya. Khususnya tentang pencapaian sebagai manusia yang berguna (uhuk)

Tak pernah bermuluk ria untuk kehidupan, saya tipikal orang yang lebih memilih mendahulukan semua  hal yang bisa saya kerjakan terlebih dahulu (tanpa melihat tingkat urgentsinya) Seperti contoh kemarin, ketika teman-teman kampus sedang uring-uringan dengan urusan beberapa matakuliah yang tercecer. Saya malah asyik masyuk nyusun proposal skripsi dan dengan tanpa berdosa mendahului beberapa teman untuk maju ujian proposal. 

Alhamdulillah ujian proposal berjalan mulus, sesuai target. Dan sekarang mulai disibukkan dengan penelitian. Dan yah, sekaligus nyebur bersama kawan-kawan dalam pesta uring-uringan nilai matakuliah yang belum keluar, hihihi padahal targetnya bulan depan, desember nanti sudah harus nol kredit untuk bisa maju ujian meja dibulan Februari. Tapi setidaknya, saya menang satu step, bahwa saya sudah ujian proposal :) 

Begitulah skema sistem hidup yang selama ini saya kerjakan, mengerjakan apa yang dulu yang bisa saya kerjakan. Yang lainnya, nanti lagi dipikirkan, hihihihi.. 

Tapi belakangan ini, skema ini seperti macet mulai meradang oleh semua tandatanya yang suka hadir mengepung diseluruh rongga dada, begitu tiba-tiba dan menimbulkan rasa sesak yang begitu panjang. 

Saya perempuan berusia kepala tiga, belum menuntaskan kuliah S-1, karir kerjaan dengan segala ketidakpastiaan, hubungan yang masih begitu terlalu abu-abu. *sigh*  akan berakhir bagaimana hidup saya..? akankah saya melajang selamanya..? pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain..? jatuh dari hati yang satu ke hati yang lain..? akankah selamanya begini...? 

Hi, saya mhimi. Lajang. Karir yang biasa2 saja. Selalu gagal dalam percintaan.

Sampai di titik ini, saya hendak membenturkan kepala, membongkar kembali isi memori. Mencari titik-titik dimana saya merasa salah mengambil keputusan, hingga pada akhirnya membuat saya sampai diujung jalan ini. Lajang, berkepala tiga. Karir kerjaan yang biasa-biasa saja. Kuliah yang ngga kelar-kelar. Dan kegagalan beberapa hubungan. 

*sigh* 

Kelihatan berangkali saya tidak mensyukuri dengan apa yang saya miliki. Saya bersyukur, juga bahagia, tapi saya belum mencapai apa yang dicapai oleh perempuan-perempuan yang berusia sama dengan saya, diluar sana. Yang diimpikan oleh semua perempuan. Saya juga pemimpi seperti perempuan-perempuan lain.

Rumput tetangga memang selalu lebih hujan bukan....?

Semua tandatanya ini menghantarkan saya pada petualangan-petualangan nasehat, quotes tentang happiness, kebahagiaan. 

Yah semua orang punya standar kebahagiaan masing-masing... 


Dan saya sedang terjebak pada konsep standart kebahagiaan kebanyakan perempuan.


gbr dari sini


Semoga saya tidak terlalu lama terjebak, yah semoga... ^^ 



My first tears in November


Judul yang teramat cemeng, untuk sebuah postingan perdana di bulan November. Dalam sejarah perbloggeran,  ini pertamakali saya ngeblog di  awal bulan, dengan hal yang begitu...  ah, sudahlah.. terlalu miris untuk mengakuinya >__< 

Well, kemarin adalah hal yang paling berat dalam perjalanan hubungan kami, yang baru saja menginjak usia 7 bulan. Entah kenapa kemarin saya begitu bawel meminta perhatian dia ditengah kesibukan dia yang seabrek. Padahal dari awal ketika memutuskan untuk bersama dia. Saya tahu konsekwensi apa yang akan saya terima untuk terus tumbuh bersama dia.

Seharusnya kemarin bukanlah menjadi pertengkaran hebat, tapi ngga tahu kenapa situasi begitu semangat untuk mengobarkan emosi kami. Entah karena saya terlalu rindu padanya, setelah sekian lama tak bertemu, atau dia yang begitu lelah dengan kesibukannya. Maka pecahlah kami dengan perang argument di udara. Ditambah lagi sikap beberapa orang yang secara tidak sengaja memperburuk keadaan. Dan makin ngga terkontrollah emosi kami berdua.

Dan semalam lagu audy 'menangis semalam' menjelma nyata dalam kamar. Saya menangis sepanjang malam. Menangisi semua pertengkaran, benturan ego, luapan emosi yang lepas kontrol. Dan seacra betina saya mengakui bahwa sayalah yang salah. Saya terlalu berlebihan melihat semua yang terjadi kemarin. Dengan penuh penyesalan saya meminta maaf padanya. Tanpa berharap dia mau memaafkan, karena saya sadar kemarin saya memang terlalu berlebihan. 

Cukup kamu tahu, saya menyesal atas semuanya yang terjadi kemarin, amat menyesal :'(

Dan setelah semua ini, saya sadar saya kembali jatuh cinta padamu. Semoga saya tidak terlambat kali ini. 


Maafkan saya, baikan yukk.... :-*