6 Desember 2016

Tentang Ibu

FYI :  Ngetik tulisan ini dalam keadaaan ngos-ngosan, gegara baru saja keluar dari tumpukan berkas kerjaan yang entah mengapa begitu numpuk hari ini, efek dari akhir tahun kali yah...? Entahlah yah, yang jelas masuk desember ini, kerjaan kayak air yang mengalir tiada henti, tp disyukurin aja. Setidaknya, menandakan saya masih bekerja, masih dibutuhkan sama perusahaan, dan tidak sekedar bergaji buta ( ini gaji buta, siapa yang ciptain sih..? ) 

Okay, tema tulisan ini ditentukan oleh uni deesan, yang sepertinya aura keibu-annya sedang berkembang, sehingga memutuskan tema tulisan kali ini bercerita tentang ' Ibu' 

ehem...

Dan sebelumnya saya mau minta maap ama uni, yang tadi sudah yakin banget, saya akan kembali gagal lagi dalam tantangan nulis kali ini, berhubung menjelang deadline tinggal beberapa jam, saya masih terperangkap sama kerjaan yang segunung.  

Sorry to say Uni, bahwa keinginan uni untuk melihat penampakan photo jelek saya di sosmed, harus kandas seiring terpostingnya tulisan ini sebelum jam 00:00 Wita. * Ketawa Songong *  


Ibu, 


yang terjelas pastilah sosok perempuan yang paling sabar menghadapi ujian dari Tuhan karena telah menitipkan aku lewat rahim-nya. How lucky me, Mom, become your daughter ;)

kadang disaat segala penat penuh dalam diri, ingin rasanya mencuri sedikit ketenangan Ibu dalam menghadapi tiap masalah. Mencuri kesabarannya lewat pelukannya, ketika saya merasa bumi seakan tidak menerima saya. 


Honestly. ceritain sosok Ibu, saya selalu kehabisan kata-kata untuk mendiskripsikannya dalam kata-kata, menjabarkannya dalam deretan huruf. 

Well, saya selalu gagal untuk menjelaskan bayangan tentang Ibu saya.

Hanya satu yang saya tahu tentangnya, bahwa dikehidupan manapun, saya ingin tetap terlahir dari rahim beliau. (semoga beliau juga berharap begitu,sih ) 

Dan tiap ingat tentang Ibu, saya selalu berharap banget, bahwa saya semoga tidak gagal menjadi anak yang diharapkannya, meski berangkali saya belum bisa membahagiakan beliau seutuhnya, seingin dia tentang aku sebagai anaknya.

Ibu,

I know you can't read my posting about you, here. ( My mom, ngga tahu internetan) tapi percayalah bahwa satu-satunya keberuntungan yang selalu menyelamatkanku disaat langit seakan runtuh dihadapanku, adalah keberuntungan terlahir dari rahimmu... keberuntungan menjadi anak dari seorang perempuan semulia dirimu, ma :)


With Love,


Anak perempuanmu yang sedang belajar menjadi dirimu, setidaknya separuh saja seperti dirimu. Wish me luck, mom :-*