29 Mei 2014

Long Story Long Trip : TATOR- PALOPO-MAKASSAR

Berangkali inilah trip darat  terpanjang saya selama menyandang diri sebagai manusia kantoran. Secara selama ini trip sehari-hari hanya dihabiskan di Kantor-rumah, Rumah - Kantor, hahahhaha 

Sebuah perjalanan panjang yang dimulai lepas magrib tepat tgl. 27 April 2014. Sesaat setelah saya usai dengan urusan Wisuda dan acara syukur kecil-kecilan di rumah.

Sebenarnya ini secara tak sengaja sih, seorang kawan yang kebetulan ingin bertugas ke Tator iseng mengajak kami untuk ikut. Awalnya saya udah mulai bingung hari ke dua ini mau kemana kita..? secara rencana yang sudah jauh-jauh hari disusun semateng-matengnya boleh dikata berantakan menjelang hari H.  

Pertama temen pemilik ide awal trip barengan ini, si Tebeh mendadak sakit DB menjelang keberangkatan ke Makassar. Terus yang ke dua yang ngga kalah  tragis, sekelompok temen yang nemu disosmed, awalnya sepakat untuk sama-sama pergi ke Tinabo, Takabonerate.Selayar. Memilih untuk pergi duluan dan ngga bisa gabungan trip ama saya dan Uni.  Jadi tinggalah saya ama uni Deesan saling bingung dengan next trip kita kemana nih..?? hahahha secara yeee... uni Deesan udah di Makassar, masa jauh-jauh dari Jakarta cuma mau hadirin wisudaan saya doang...?? :p 

Maka kembalilah kita berdua keniat awal tulus kami, sebuah niat ke Tator yang awalnya membuat Uni Deesan mau ke Makassar.  kita memutuskan naik bus aja ke Tator, sampe tator cari penginapan dan keesokan paginya barulah explore Tanatoraja :

 Itin : 
26 April 2014 : Jemput Uni Deesan di bandara,  lanjut ke Bantimurung   ( Is Done )
27 April 2014 : Pagi-Sore : ( Wisudaaaan kitee kakaaaaa)
                           Lepas Magrib ( Go to Makassar) 
28 April 2014  : Touch Down Tator dan Explore Tator Sepuas hatinya
                            Lepas Magrib Back To Makassar kiteeee.... 

Dan sekali lagi rencana 27-28 Yang semua hanya ke Tator, berubah dalam sekejap mata, hahahha ketika temen saya, yang sudah kayak saudara. Bertandang ke rumah untuk hadiri acara syukuran Wisuda, menawarkan ajakan nebeng ke Tator bareng dia yang kebetulan lagi ada perjalanan dinas ke tator dan beberapa daerah. 


Uallalaaa, semacam mendapatkan bonus dari beberapa rencana kami yang berantakan dua hari ini. Dan senangnya berganda, karena dalam trip barengan ini, selain kawan saya. Ada Uya juga ikutan long trip ini. 

Jadi Itin kembali berubah. Hahhahahha.... 

27 April 2014 : Pukul 20.00 Go To Tator 
28. April 2014 : 04.00 Dini hari, Touchdown Tator
28 April 2014  ;06.00 - 13.00 Explore Tator dan sekitarnya 
28 April 2014  : 13.00 -20.00 Start for road trip Gunung Latimojong- Palopo  - ParePare - Makassar
29 April 2014 : 01.00 dini hari Touchdown Makassar. 

04.00 Dini hari, Touchdown Tator

Dan berkat ajakan ini,setidaknya saya ama uni yang udah nyiapin budget sekitar 500 ribu perorang ke tator, jadi hemat karena beberapa biaya yang sudah kami perkirakan, terpangkas begitu saja tanpa jejak, hahahahahah salah satunya yah kita ngga butuh tempat nginap lagi. Setidaknya kami save 300 ribuan lah di sini :p 

Pagi di Tanatoraja yang berselimut kabut, brrrrr...

Setelah melepas lelah sejenak disebuah Mesjid. Pukul 06.00 Pagi kita siap-siap menuju Londa salah satu objek wisata terkenal dan kudu wajib didatangi kalau ke sini (Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.-Wiki)






*heaven view sepanjang perjalanan menuju Londa*


Kurang setengah jam, akhirnya kita tiba di Londa. Karena kepagian, kita adalah rombongan pertama yang tiba di Londa, hahahahaha.... 





Selamat datang di kesunyian londa, kepagian sih,xixixixiix

Positifnya, dengan dateng pagi. Kita bisa bebas menikmati view sekitaran Londa yang amazing banget (dibaca : poto2 sepuasnya) 

Untuk masuk ke Londa dan goanya kita meski sewa guide dan lampu. Waktu itu kami ngeluarin budet 100.00 untuk Guide + sewa lampu. 

Seperti dari awal yang tadi saya jelasin soal Londa. Bahwa Londa itu semacam kompleks perkuburan goa. yang mane yang dimaksud dengan kompleks perkuburan berarti semacam perumahaan buat mereka-mereka yang wafat.  Ngga seperti kompleks perkuburan lainnya, di sini kamu ngga akan nemukan yang namanya batu nisan. Dikarenakan semua mayat di sini, ngga ada yang ditanam alias dikubur. Tapi didrop begitu saja ke dalam goa. Yeps dimasukin begitu saja. Diselipin dibeberapa batuan dalam Goa. Jadi jangan heran, kalau di dalam penuh dengan kepala tengkorak dimana-mana. 

Depen mulut Goa. Patung-patung itu, semacam pengganti Photo orang yg sudah meninggal. Tapi tidak semua orang di tator bisa dibuatkan seperti ini. Hanya kalangan tingkat nigrat doang yang bisa punya patung seperti ini. Well, dalam alam lain pun kasta tetap berlaku cyin.... hahahhaha

Jejeran kepala tongkarak yang siap menyambut kita disepanjang jalan dalam goa. Ngga usah takut, mereka ngga menggigit kok :p



Penghuni baru.....

Di dalam goa lebih serem lagi, ngga ada celah yang tanpa kepala tengkorak. Tapi anehnya, masuk di area serem begini, yang namanya bau-bau horror gitu ngga ada sama sekali. Entah feel saya sendiri aja atau gimana yang jelas, perasaan lebih serem sendirian di rumah deh tanpa makanan daripada dalam Goa kuburan ini, hahahaha 

Curiga, semasa hidup doi berangkali perokok berat. Disekitaran petinya, banyak banget rokok.

Peti-peti mayat yang udah lama.


Sepasang kekasih yang memilih mati bersama daripada hidup terpisahkan, hiks

Penghuni baru lagi

jejeran senior :p

Beberapa peti yang masih utuh

Saking penasarannya, saya sempat menanyakan hal ini pada Guidenya, kok kenapa ngga ada kesan horror2nya masuk ke sini...? dan memang katanya, ngga ada Horrornya Karena penguburan dilakukan semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya. Dengan harapan mereka yang mendahulai benar-benar tenang dialam baka. Bahkan sebagai bukti, tim uka-uka dari salah satu TV swasta pernah ngadain acara Uka-Uka di sini, tapi tak berhasil. Karena yang namanya penampakan benar-benar ngga ada di sini.

Jadi buat yang punya naluri parno ama segala hal penampakan, ngga usah ragu untuk menelusir penguburan Londa. Aman dari segala gangguan alam lain. Hehehehehehe.... bahkan asyik buat narsis, hahahhaha.... 






look, how happy our there, ngga ada wajah-wajah ketakutan. Yang ada wajah-wajah mupeng poto-poto, hahahahha... 

Lepas puas moto-moto ama tengkorak, next kita menuju ke Ketekesu  (Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.-Wikipidia- )

Beda banget dengan Londa, di Ketekesu adalah sebuah desa yang menyajikan jejeran Tongkonan (Semacam lumbung padi) boleh dikata inilah maskot sesungguhnya dari Tanatoraja. 


Rumah Tongkongan

Hidup Narsis :p

 karena ngga  terlalu luas, di Ketekesu kita hanya sekitar sejaman lebih, ngga cukup 2 jam buat mengeksplore di sini. Dan Oh yah , untuk masuk di sini dikenakan biaya 10.000 ribu perorang.

Lepas Londa dan Ketekesu, perjalanan selanjutnya balik ke Makassar, dengan jalur putar balik. Yang biasanya dari Toraja langsung balik ke Makassar. ini engga, kita lebih jauh lagi dari Toraja, Ke Palopo. Dari Palapo lalu kembali ke Makassar. And Honestly ini adalah perjalanan panjang yang super duper menyenangkan, karena sepanjang perjalanan kita akan singgah kebeberapa tempat. Salah satunya yah, di kaki gunung Latimojong yang super duper amazing Viewnya...







Jump...Jump..
 Puas nikmatin view di kaki gunung latimojong yang masih berkabut, maka perjalanan selanjutnya menuju Kota Palopo yang dikenal dengan Duriannya. sayangnya, lagi ngga musim duren. jadinya ngga nemu Durian. Tiba di Kota Palopa, maka yang dicari adalah Mesjid Agung Palopo yang terkenal itu. Di sana kita semua sholat sekakigus numpang mandi dan sebagainya, hihihihi...




Mesjid Agung palopo





Seger habis mandi dan ganti pakaian, sayang kalau ngga poto :p




Setelah menyelesaikan beberapa urusan kerja di Palopo. Kita pun melanjutkan perjalanan balik ke Makassar. Dan menikmati makan malam di kota Pare-Pare.

Lelah selelahnya tak terbendung lagi, kita semua pada tidurr di Mobil. Hahahhaha.....

Namun dengan semua yang kami temui dalam perjalanan ini, rasanya lelah itu ngga berarti apa-apa. Dan semakin memperkaya kami akan segala ciptaaan yang Maha kuasa yang begitu Indah.

See u di next trip yah.......




Summary Budget (itungan perorang )

Makan    : 25.000,-
Cemilan : 25.000,-
Ke Goa   : 50.000,-
Ketekesu : 10.000,-
Transportasi :  170.000,-

Total : Rp. 280.000,-  ( HEMAT 300 RIBU) Hahahahahahaaa....





23 Mei 2014

#Selfnotes

“Be soft. Do not let the world make you hard. Do not let pain make you hate. Do not let the bitterness steal your sweetness. Take pride that even though the rest of the world may disagree, you still believe it to be a beautiful place.”

– Kurt Vonnegu




Me, dipuncak gunung Bromo 

14 Mei 2014

Surga Biru Samalona

Masih dalam rangkaian jalan-jalan untuk mengisi cuti panjang setelah kuliah. Postingan kali ini saya ingin memperkenalkan salah satu pulau cantik yang ada di Sulawesi Selatan, tak jauh dari kota Makassar. Dengan menggunakan perahu motor kurang lebih 20 Menit dari pangkalan perahu, depan Benteng Rotterdam Makassar. Maka kita akan menjumpai daratan pasir putih dengan hamparan air laut yang biru nan bening serta dibingkai dengan hamparan langit biru. Sungguh paduan yang perfect menjadikan pulau Samalona menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Makassar. 










 Tidak sulit untuk mendatangi Surga Biru Samalona ini. Cukup dengan menyewa perahu (pulang pergi ) kisaran 350-400 Ribu (tergantung jenis perahu) Di pangkalan perahu persis depen benteng Rotterdam, kita akan banyak menjumpai para ojek perahu yang akan menawarkan perahu untuk menyebrang kebebrapa pulau. Salah satunya Samalona. 

Saran saya, jika anda hanya sendiri atau tidak lebih dari 5 orang. Lebih baik menggunakan open trip, jauh lebih murah dan lebih menghemat waktu karena tidak dipusingi lagi dengan urusan kapal. Kemarin dengan beberapa temen, kami menggunakan jasa Open Trip MamaYuyu Adventure. Dengan bugdet 100 ribu perorang saya dan temen-temen sudah puas menikmati keindahan pulau Samalona. 

Source pic from : MamaYuyuAdventure

Source pic from : MamaYuyuAdventure


Source pic from : MamaYuyuAdventure

Untuk urusan Snorkling. Maka Samalona juga menjadi tempat paling apik untuk Snorkling.





Air laut yang bening, batuan coral yang cantik serta ikan-ikan yang begitu genit berkeliaran dipermukaan laut. Membuat siapaun akan merasa rugi jika tdk menyempatkan Snokrling di Samalona. 


Sewa alat Snorkling : Rp. 40 rb. kalau jago nawar bisa dapet 30 rb. 



 Overall untuk menikmati Surga Biru Samalona untuk perorangnya kira-kira 200 Ribulah udah dengan sewa alat snorkling, patungan sewa balai-balai dan kapal.  (ini untuk rombongan 7-10 orang) 

Dengan budget yang termasuk minim, maka tak ada alasan untuk tidak mendatangi Surga Biru Samalona ini.. :) 









7 Mei 2014

Menelusuri Sisi Lain Dari Keindahan Bantimurung #TripDay1



Hari pertama cuti, saya agendakan dengan menjemput Mabk  Deesan di Bandara Sultan Hasanuddin. Rada telat 30 menit, gegara harus ngehandle beberapa hal pagi itu. Untunglah Mbak  Deesan sabar banget menunggu di Bandara, hehehehe...

Begitu sesi penjemputan kelar, Mbak Deesan langsung saya giring ke Bantimurung dengan mengendari Taxi dari hasil nego alot, hahahahha.... lumayan dapet 120 ribu dari penawaran awal 210 rb (disinilah jurus nego level dewa dipertaruhkan) :p

Kurang lebih 1 jam, akhirnya kita berdua tiba di Taman Nasional bantimurung. Dengan membayar tiket masuk 20 rb/perorang (dewasa) 

Selamat Datang Di Kerajaan Kupu-Kupu, Bantimurung

Menyiapkan Amunisi

Welcome to Bantimurung Mbak Deesan

Karena menikmati Air Terjun Bantimurung terlalu mainstream  maka Mbak Deesannya saya ajak saja langsung naik ke atas, ketempat yang jarang orang datangi karena medan kesana cukup lumayan jauh dan melelahkan. Tapi semua itu akan terbalaskan dengan keindahan yang ditawarkan. 


Narsis di tangga

Sepanjang jalan akan disuguhi pemandangan seperti ini


Dan inilah ujung jalan ini.....





Kalau sudah begini, lelah gimana pun rasanya, akan menguap begitu saja. Yang ada saya dan Mbak Deesan sibuk jeprat sana jeprit Sini, hihihihi.....


Narsis until die :p
Dan kalau udah sampe di sini, jangan lupa untuk mampir ke goa batu yang ngga kalah eksotisnya. Cukup sewa senter 25 rib (awalnya dikasih 50 rb tp tawar aja 25 ribu) bisa nawar sampe seribu perak kok, tapi dapet lilin doang. hahahaha..... dan jasa guide seikhlasnya kita. 


Goa batu dan manusia batu :p
Puas menikmati sisi lain keindahan dari Bantimurung, saya dan Mbak Deesan memutuskan untuk kembali ke rumah dengan menggunakan tranportasi pete2 (angkot) Honestly ini pengalaman pertama saya pulang naik pete2 dari Bantimurung. Biasanya sih tiap ke sini, selalu make mobil rental. Tapi biar Mba Deesan ngerasain realnya kota Makassar. Maka naik pete2 adalah suatu kewajiban.. :D

Turis dalam pete-pete :p 




sayangnya untuk nunggu pete-pete dalam kawasan bantimurung itu lumayan lama. Soalnya jarang-jarang ada pete-pete yang masuk. Tapi tenang aja, sembari nunggu kita bisa menikmati jajanan di sini, bisa beli ole-ole juga.

Sesi menunggu pete-pete yang disponsori oleh Indomie :p

Setelah 3 kali nyambung pete-pete untuk tiba di Rumah. Akhirnya trip day1 tgl. 25 April 2014 is Done. 

Saatnya kita berdua meluruskan badan, terutama betis! 




See u next trip guys