11 November 2014

Takdir (?)


Saya lagi kesal dan menyesali diri untuk beberapa hal yang tahun ini sepertinya ngga bisa saya selesaikan dan saya raih tentunya.

Kecewa? Iyalah banget. Tapi mau gimana. Saya juga ngga bisa ngapa2in. Hanya semacam berdiri melihat itu semua jatuh berantakan begitu saja. Yang lalu dengan sisa tenaga yg ada, pelan-pelan memunguti itu semua patahan itu. Menarohnya pada satu tempat. Tanpa sedikitpun berusaha untuk menyatukan.

Berangkali di dunia ini, memang ada hal-hal yang perlu dibiarkan begitu saja. Berantakan. Pecah. Daripada disatukan, dengan segala keterpaksaan.


Saat ini saya belajar untuk berdamai dengan semua segala kegagalan ini dengan berusaha semaksimal mungkin dengan tidak menggugatnya dengan segala pertanyaan yang mana hanya akan membuatnya semakin sulit menerima.
Yah, saya akhirnya berhenti bertanya-tanya. Meski begitu banyak pertanyaan yang semakin liar berkecamuk di kepala. Tapi saya memilihnya membiarkan. Membiarkan semua yang terjadi, tanpa mempertanyakan.
Dan menutup itu semua dengan 1 kata kunci : Takdir.

10 November 2014

#StopAskMe



Saya lagi membayangkan, bahwa bisakah hidup ini ngga perlu ditanya-tanya..? I mean, kita ngga pusing bertanya-tanya tentang hidup ini, tentang seorang atau tentang cewek  yang baru aja melintas depen kita, kenapa ia make Bra-nya diluar ? mau nyaingin Superman yang make kolornya diluar..? yah.. Misalnya..yah...

Yah, maksud saya lagi. Kenapa selama ini orang-orang yang saya amati sepintas lewat pada demam bertanya. Seoalah-olah kalau ngga bertanya hidup ini ngga lengkap. 

Maksudnya saya lagi, bisakah kita liat semua yang terjadi dihadapan kita, adalah sebuah kewajaran dalam hidup..? misalnya, tadi pagi ketika saya terbangun, dan mendengar tetangga depan ribut. Dan segerombalan ibu-ibu kepo, mulai akting depen penjual sayur. Pura-pura nanya harga, padahal nanya dan nebak-nebak kenapa ada keributan.

Maksudnya, bisakah ini ibu-ibu ngga usah nanya-nanya kenapa tetangga mereka ribut, cukup diam. Lalu melanjuti hidup di dapur masing-masing. Dan melihat pertengkaran itu hal yang wajar dalam rumah tangga, sebagaimana mereka juga pernah bertengkar sama pasangan mereka masing-masing. 

Dunnowlah yahhh... 

Entah saya yang emang  lagi error, beberapa hari belakangan ini saya males dipertanyakan (apa seh) bahkan oleh orang tua saya sendiri (sigh) 

Yah, saya males aja ditanya-tanya meski pada hal yang sederhana saja. Kenapa saya begini, kenapa saya begitu.  Saya ingin melakukan apa yang harus saya lakukan, tanpa di-why-kan oleh orang-orang sekeliling saya (sigh)

Saya ingin orang-orang mewajarkan apapun yang sedang saya lakukan, sebagaimana saya yang dari dulu tidak terlalu pusing dengan orang-orang perbuat disekeliling saya selama ini. Bagaimana saya ndak perna tertarik mau bertanya, kenapa dan sedang mengapa. Bukan karena saya ngga peduli, tapi karena saya merasa tak perlu bertanya, karena jawaban dari pertanyaan itu tidak memberi apa-apa terhadap saya. Jadi kenapa saya mesti bertanya..? 

Okey, mulai bingungkan..?

saya juga. 

Berangkali sayalah yang sebenarnya, harus belajar mewajarkan semua. Termasuk dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang datang. Mewajarkan bahwa orang bertanya itu adalah hal wajar bagi makhluk bernama manusia. 

Seperti saat ini, ketika saya sedang mempertanyakan ini semua....