27 Juli 2012

:: Mengintip Komunitas Capoeira di Makassar ::


Hari ke-3  Ramadhan, saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat yang sebenarnya sudah lama ingin saya kunjungi : Tempat latihan para komunitas Capoeira di Makassar. Kunjungan ini sebenarnya di luar rencana, tapi berhubung salah seorang dari Capoerista ini ada yang ingin terlibat di acara Baksos yang saya adakan bersama temen-temen di OMI Production, maka lepas dari rutinitas kantor berangkatlah saya menuju markas Capoeira yang berada disekitaran Jl. A.P  Pettarani dengan mengunakan kendaraan sejuta umat, Pete-pete (angkot) ;)

Diperjalanan ditemani “ Quem vem la sou eu-Afro Billy Jones “ salah satu lagu yang bercerita tentang Capoeira ini,  saya kembali mem-flashback sejarah perkenalan saya dengan Capoeira, meski bukan seorang Capoeresta tapi olahraga bela diri ini cukup membuat saya tertarik untuk menelusuri sejarah lahirnya beladiri yang berasal dari negeri samba, Brazil ini. Yah, disamping saya memang  suka dengan  hal-hal yang berbau sejarah




Honestly, pengetahuan awal saya soal Capoeira mulanya hanya sebatas kalau Capoeira itu adalah sejenis beladiri yang berasal dari Brazil. Tak terbayang sama sekali kalau suatu hari saya akan punya banyak teman dari komunitas ini. Bermula dari cerita seorang kawan yang saat itu sedang study di luar negeri yang bercerita tentang Capoeira. Saya yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan segala hal berbau bela diri, yah.. karena pada dasarnya saya suka dibela sih… #eh..?? hihihi… jadi tertarik ingin tahu apa sih Capoeira itu..?? dengan bantuan jari-jari lentik ini (halah..halah..  ) maka saya pun membrowsing segala hal tentang Capoeira, dan semua yang saya temukan membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa Capoeira bukan hanya sekedar olahraga beladiri biasa, tapi juga olahraga jiwa. Olahraga kehidupan. Kata teman saya : Capoeira is not just a game, It’s a way of life.. “ (Indio)

Apalagi jika menyusuri sejarah lahirnya dari Capoeira, akan banyak kita temukan filosofi-filosofi hidup yang penuh makna tentang kebebasan. Yah, kebebasan dalam segala hal tapi bukan kebebasan yang “liar” tapi lebih pada makna kebebasan yang sebenarnya. Tak heran  jika Capoeira lebih banyak bercerita tentang kebebasan mengingat lahirnya Capoeira berawal dari perjuangan panjang keinginan para budak-budak Afrika di Brazil yang ingin hidup bebas lepas dari belenggu perbudakan saat itu.



Hampir pukul 20.00  akhirnya tiba juga di tempat latihan para Capoeiresta ini dan langsung disambut penuh keramahan dari salah seorang penanggung jawab GFC (Ginga Firma Capoeira, nama komunitas Capoeira). Rosifa Ousada Ag. Yang langsung mengajak saya ke lantai 4 tempat mereka latihan.  Tak seperti Rosi, yang melangkah begitu enerjik menyusuri anak-anak tangga, Hufft saya harus ngos-ngosan  apalagi harus melalui anak tangga itu dengan High heels  yang membuat saya nyerah di tangga terakhir menuju lantai empat dengan terpaksa menenteng si spokat, hihihihi….

Di Makassar sendiri sebenarnya ada beberapa komunitas Capoeira, tapi terbesar dan sekaligus resmi itu adalah komunitas Ginga Firme Capoeira yang disingkat  dengan GFC Makassar.  Berdiri sejak tahun 2009 GFC Makassar kini memiliki anggota ratusan meski tak semuanya aktif dan kontribusi GFC Makassar untuk memperkenalkan Capoeira di kota Daeng ini sangat besar. Ini bisa dilihat bagaimana mereka mensosialisasikan Capoeira dengan mengadakan aksi Capoeira  ke sekolah-sekolah maupun  ke kampus.  Tak jarang juga mereka jadi pengisi acara beberapa event, semua tentu dengan satu tujuan bagaimana Capoeira bisa berkembang baik dan diterima oleh masyarakat khususnya dikalangan generasi muda.

 GFC Makassar yang tetap latihan meski di bulan Ramadhan

 saya diantara para jagoan Capoeira 

Lupakan wajah-wajah sangar, atau teriakan-teriakan khas beladiri, atau tubuh yang penuh gumpalan-gumpalan otot ala Ade Ray ketika kalian membayangkan orang-orang di komunitas ini.  Yang ada adalah kelompok anak muda yang penuh keakraban dan begitu ramah tamah menyambut saya (hehehehe..bener lho, mereka semua akrab2, bukan karena saya yg GR ;p ) perasaan canggung dan takut dicuekin ketika bertemu dengan kelompak ini menguap begitu saja seiring dengan keramahan mereka. 






 * suasana latihan yang penuh keakraban*

Tapi buat kalian yang pernah membaca sejarah panjang tentang peradaban Capoeira ini, suasana seperti ini memang merupakan ciri khas dari beladiri ini. Tidak seperti beladiri pada umumnya yang lebih mengutamakan kedisiplinan tingkat tinggi hingga menciptakan suasana yang keras, di Capoeira suasana santai dan penuh kegembiraan justru menjadi suasana yang begitu lekat saat mereka latihan.  Apalagi latihan mereka diiringi dengan musik yang berasal dari harmonisasi alat musik traditional seperti Berimbau (semacam lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan Atabaque (gendang besar, pernah liat penari Zamba yang nari diiringi dengan pukulan gendang besar..? nah semacam itulah saudara, kalau saya ngga salah tafsir sih, hihihi)  . Nah, bagian ini menurut saya paling juara di Capoeira. Dan berangkali hanya di Capoeira kalian bisa menemukan ini; Bermain, menari, menyanyi sekaligus beladiri!


Salve...!!!


20 Juli 2012

:: Apa kabar Juli..? *Sapaan yg telat sekali... ::


    Apa kabar Juli...?? hehehehe I know sapaaan ini super telat sebenarnya, dan saya menyadari ini sepenuhnya sebagaimana saya menyadari begitu banyak hal yang terlewatkan selama ini rupanya dalam kehidupan saya yang sangat biasa-biasa ini. Well, kedengarannya kasihan banget yah...? udah hidup biasa-biasa aja banyak pula yang terlewatkan rupanya dan celakanya lagi saya baru menyadarinya akhir-akhir ini.. *sigh7x

Awal Juli akhirnya saya bisa merasakan yang namanya "CUTI" setelah hampir 10 tahun bergelut di dunia kerja, dari jaman nyambi jadi  SPG pameran ketika kuliah dulu hingga bekerja di tempat sekarang, baru kali ini saya mengajukan surat cuti, hehehhe! 

Cuti ini akhirnya saya ambil, ketika melihat jadwal lembur kerja saya di kantor mulai "berperang" dengan jadwal final kuliah, mau tidak mau saya harus mengambil keputusan untuk cuti, yang mana sangat alhamdulillah diberi kemulusan di kantor. Maka dengan mudahnya surat cuti seminggu pun berada di tangan saya, dan saya pun mulai merancang rencana cuti dengan begitu suka cita.

Sayangnya, begitu memasuki hari pertama cuti saya langsung disibukkan dengan ngehandle pernikahan sahabat saya, sesuatu yang sudah lama kuimpikan selama ini; menjadi seorang  " wedding planner " hohohoho....!  yang mana saya melewatkan beberapa hal, pertama mendampingi detik-detik terakhir kehidupan keponakan saya yang sedang sekarat di rumah sakit malam itu. Apadaya pasca pernikahan sahabat saya kelar, penyakit maag sialan saya kambuh, dan saya benar-benar harus pasrah terbaring tepar ketika sampai di rumah. dan keesokan hari baru bisa menyusul ke rumah sakit, dan hanya menemukan tubuh keponakan saya yang sudah terbujur kaku.. ;( 

 Innallillah wa inna ilahi rajiun... 

Kematian keponakan saya karena kecelakaan di usianya yang masih belia kembali mengingatkan  saya, bahwa kematian adalah hal yang begitu nyata, hal yang begitu dekat namun merupakan hal yang juga sering kita lupakan... 

Lalu di hari cuti saya selanjutnya, saya pun mulai memenuhi undangan kopdar satu persatu kawan-kawan saya yang selama ini akrab di dunia maya, dan tak lupa hadir di acara reuni teman-teman sekolah dan kuliah dulu, dan tak ketinggalan acara ngumpul dengan keluarga besar saya. 

Dari sini saya menyadari betapa banyak kebersamaan yang selama ini yang saya lewatkan terutama dengan keluarga besar saya, akibat dari kesibukan kerja saya selama ini. Sesuatu yang membuat saya kembali menyadari bahwa keluarga dan persahabatan adalah karunia Tuhan yang maha besar dan begitu indah yang nyaris luput dari rasa syukur kita selama ini... 

Rasa cinta saya terhadap keluarga saya yang begitu sederhana meluap dalam tangis saya di suatu malam, betapa saya menyadari terlalu banyak mengabaikan kebersamaan dengan mereka.  Kejadian ini pun saya capslock dalam lembar perjalan hidup saya sebagai sentilan Tuhan  ditengah masih banyaknya keluhan-keluhan yang masih sering kubisikkan pada-Nya.. 


Betapa banyak alasan sebenarnya untuk bersyukur ketimbang mengeluh. Andai...seandainya kita mau meluangkan sedikit saja waktu untuk melihat ke dalam diri kita, apa yang sudah kita miliki dan apa yang ada disekitar kita ketimbang begitu banyak membuang-buang waktu untuk mengeluh apa yang tak dapat kita miliki. Meski mengeluh adalah hal yang sangat manusiawi tapi belajar bersyukur pun juga hal yang sangat manusiawi dan tidak akan mengubah kita menjadi malaikat hanya saja mungkin menjadikan kita manusia yang sedikit lebih"baik"dari manusia pengeluh... 


Oh yah, Juli ini juga kita semua khususnya umat Islam kedatangan bulan suci Ramadhan, Selamat menunaikan Ibadah Puasa 1433 H mohon maaf jika ada tindak tanduk pemilik blog ini yang menyimpan salah di hati para pembaca semua... 





Selamat berpuasa...
Mari bersyukur...



~MN~



pic dari sini