28 April 2013

Laugh, Life and Love..


Yah, saya sedang (berani) jatuh cinta (again)

Jatuh cinta ditengah semua ketakutan, keraguan saya pada sesuatu yang bernama : Cinta
Ini bagian yang terberat sebenarnya, dimana kamu mengaku pada dirimu sendiri bahwa kamu jatuh cinta pada hal yang begitu kamu takuti selama ini; Cinta.

Kamu jatuh cinta pada cinta itu sendiri. Dan celakanya kamu belum bisa menemukan definisi yang tepat untuk menyimpulkan.

And I'm...

Yah saya kembali menjudikan perasaan ini. Kembali jatuh dan basah pada perasaan yang diam-diam memabukkan ini. Meski sesekali ketakutan dan keraguan menyelinap, dan merasuk begitu cepat, menamparku begitu kuat dan begitu tiba-tiba dengan satu pertanyaan yang begitu besar terbentang di depan mata :

"ARE U SURE YOU FALLING LOVE WITH HIM.. ?!? "
apa ngga terlalu cepat, mhi?!

Well, saya tidak tahu.

Yang saya tahu, ketika bersama dia. Saya bisa tertawa lebar, tidak merasa khawatir sama sekali ia tidak menyukai cara ngakak saya yang tak sopan, atau sifat buruk saya lainnya. Saya benaran tidak worry jika bersamanya, bahkan kehilangan dia.

Untuk pertamakalinya saya jatuh cinta dan saya tidak khawatir untuk kehilangan.
"Jatuh cinta tanpa beban... " katanya.

Yah kami jatuh cinta tanpa beban, tanpa rasa takut kehilangan satu sama lain. Semacam silent agreement bahwa kita tak akan saling menghilangkan satu sama lain. Karena ketakutakan akan saling kehilangan hanya akan menjadi beban dalam hubungan ini..

Lalu kemanakah hubungan ini akan berlabuh?

Itu bukan urusan aku atau dia. Itu urusan rasa, yang sejauh ini menghantarkan kami sampai dititik kami berpijak sekarang...

Yah biarkan rasa itu menemukan pelabuhan untuk aku dan dia..


Dan akan berbentuk apakah pelabuhan hati kami kelak? sekali lagi, aku memilih untuk berjalan pelan bersamanya, menikmati perasaan ini tanpa beban...


Laugh, Life and Love with you

21 April 2013

:: Karena Kita Hanya Manusia Biasa ::

“I have feelings too. I am still human. All I want is to be loved, for myself and for my talent. ” ―Marilyn Monroe

Salah satu fakta yang berangkali lumayan tidak masuk akal tentang saya, adalah kalau kenyataannya saya itu fans berat Marilyn Monroe, dari style sampe quotes-quotesnya yang smart dibalik image 'nakal'nya. Banyak teman-teman yang tidak menyangka kalau saya ini amat mengagumi perempuan seksi ini. Tapi sekali lagi, inilah kenyataannya saya termsuk garis keras fans berat si pemilik bibir sexy ini :)

Mengenali perempuan ini sejak usia 7 tahun, poster besar bergambar dirinya yang hampir menutupi daun pintu kamar Alm. Kakak saya, menjadi salah satu persinggahan yang menyenangkan bagi saya di dalam rumah. Saya suka meniru gaya centilnya saat itu. Jika berdiri di depan pintu kamar kakak saya. Pasti saya akan meniru gaya dia, hihihihi

Menginjak dewasa, dan setelah ditinggal pergi oleh Alm. Kakak, saya mulai menyelusuri tentang jejak-jejak Marlyn Monroe, membuka biodatanya, mengenali sosoknya. Dan semakin jatuh cinta pada sosoknya. Lepas dari segala 'image buruk' tentang dia.

Bagi saya, Marilyn Monroe selalu menyentil kita dari sisi manusia. Bahwa setiap kesalahan yang kita lakukan, kebodohan-kebodohan yang terjadi dalam hidup ini, adalah sesuatu yang wajar, karena kita adalah manusia. Beberapa quotesnya mencoba mengingatkan diri kita, bahwa kita ini seorang manusia. Kenapa harus disusah payahkan dengan 'kesempurnaan' yang hanya dimiliki oleh Malaikat...? hiduplah dengan ukuran manusia, dan jika sedang terpuruk, terpuruklah dengan cara manusiawi. Sesederhana itu sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Marlyn Monroe dengan taburan quotes-quotesnya yang berkesan centil tapi smart dan begitu sangat manusiawi :)

“When you're young and healthy you can plan on Monday to commit suicide, and by Wednesday you're laughing again.”

―Marilyn Monroe, My Story

“I want to grow old without facelifts... I want to have the courage to be loyal to the face I've made. Sometimes I think it would be easier to avoid old age, to die young, but then you'd never complete your life, would you? You'd never wholly know you.”

―Marilyn Monroe

“I am not a victim of emotional conflicts. I am human.” ―Marilyn Monroe, Marilyn: Her Life in Her Own Words

Beberapa quotesnya mungkin terdengar klise banget, tapi meski demikian Marliyn Monroe mencoba meramunya dengan cara sendirinya, memberi magnet didalam quotesnya. membuat kita sekali lagi betapa manusianya kita sebagai manusia ini :

“ Just because you fail once, it doesn't mean you're going to fail at everything. keep trying, hold on, and always, always, always believe in yourself because if you don't, then who will? so keep your head high, keep your chin up, and most importantly, keep smiling because life's a beautiful thing and there's so much to smile about.”

―Marilyn Monroe, Marilyn: Her Life in Her Own Words

Sebagai perempuan modern dimasanya, Marilyn Monroe juga tidak pernah berkoar tentang persamaan gender, baginya perempuan itu memiliki keistimewaannya sendiri yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Pun sebaliknya. Di mata Marilyn Monroe, perempuan dan laki-laki semuanya adalah manusia-manusia dengan kepentingan masing-masing. Ia tidak pernah menyalahkan kaum laki-laki sebagai salah satu sumber penderitaan perempuan di muka bumi. Dia lebih melihat ke dalam dirinya, ketika ia menemukan hal yang keliru yang tidak menyenangkan.

“I'm a failure as a woman. My men expect so much of me, because of the image they've made of me—and that I've made of myself—as a sex symbol. They expect bells to ring and whistles to whistle, but my anatomy is the same as any other woman's and I can't live up to it”

Belajar yang paling baik, adalah belajar dari sendiri memang, mengenali diri lewat intropeksi terhadap kejadian-kejadian yang kita alami, dan kembali menyadari betapa kita hanya seorang manusia. Tapi tak ada yang salah menjadi Manusia di muka bumi. Yang salah adalah berangkali keinginan kita yang ingin hidup lebih dari sekedar manusia. Menjadi 'bukan manusia biasa' sah-sah saja. Tapi tidak serta membuat kita terobsesi pada 'kesempurnaan semu'

Jalani hidup yang lebih manusiawi, berkompromi dengan semua kegagalan. Dan kembali bangun ketika jatuh dan sesekali mengingatkan diri bahwa kita hanyalah manusia dengan segala kodratnya. Sehingga ngga terlalu mumet jika ditimpa masalah. Berangkali inilah yang coba diingatkan oleh Marilyn monroe dalam semua quotes-quotesnya.

Yeah, terkadang kita sebagai manusia, lupa kalau kita ini hanya manusia.....

btw, selamat hari Kartini. saya yakin, Kartini tidak menyangka akan begini manusia-manusia di negeri ini memperingati hari jadinya :) 3

saya belum memahami sepenuhnya kodrat perjuangan Kartini. Apakah hanya sekedar gembar-gembor tentang emansipasi..? dan persamaan gender....? kalau hanya ini, rasanya saya belum cukup kuat untuk mengagumi seorang Kartini melebih rasa kagum saya pada Marilyn Monroe..

*dibantaimassadgnkebayakartini*

15 April 2013

Alien or Hero ?


(Sebuah catatan kritis terkait eksistensi masyarakat adat menghadapi perubahan iklim dan skema REDD+)

Di tengah perkembangan globalisasi dunia yang semakin menggila, dan tingkat sosialisasi hubungan antar manusia yang mendekati titik absurd dengan segala teori moderinitasnya atas nama tuntutan jaman, nun jauh di pelosok-pelosok yang nyaris tak terjamah oleh peradaban dunia, ada kehidupan yang begitu damai  hidup berdampingan dengan alam.

Mereka adalah masyarakat adat, yaitu penduduk yang hidup dalam satuan-satuan komunitas berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakatnya.

Tapi berangkali keberadaan mereka, hanya dianggap sebagai 'alien' di tengah-tengah laju moderitas kehidupan dunia perkotaan. Yang menganggap gaya hidup berdampingan dengan alam adalah gaya hidup ‘alien’. Yang menjadi pertanyaan kemudian, siapa sebenarnya yang menjadi alien di alam ini? Kehidupan moderitas yang bertentangan dengan kedamaian alam kah, atau masyarakat-masyarakat adat ini yang memilih berkawan alam dan tumbuh berdampingan dengan alam?

Suku Kajang atau Ammatoa, yang memiliki nilai-nilai luhur hidup berdampingan dengan alam


Dan yang paling mengerikan mereka yang dianggap alien-alien bumi ini, mulai terancam keberadaannya, dengan semakin tingginya tingkat kerusakan alam. Ironisnya, kerusakan alam ini lebih banyak diakibat oleh cara hidup modern yang tidak bersahabat dengan alam. Belum lagi keberadaan mereka belum cukup terwakili atau terlibat dalam berbagai diskusi internasional soal pengelolaan hutan. Padahal dengan memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia, Indonesia sering menjadi sorotan.

Yang cukup awam terjadi adalah, hak-hak masyarakat adat di berbagai belahan dunia tidak diakui oleh pemerintah pusat. Hasilnya adalah berbagai konflik tanah atau lahan yang terjadi sehubungan dengan hutan. 


Hasil hutan, sebagai sumber hidup Masyarakat adat.Sering juga menjadi konflik internal


Salah satu contoh kejadian di Indonesia, masyarakat adat yang sudah secara turun-temurun mengambil atau menjual hasil hutan adat, tiba-tiba dilarang masuk kawasan hutan karena wilayah tersebut sudah menjadi bagian dari kawasan kelola sebuah perusahaan tertentu.

Data dari Kementerian Kehutanan menyebutkan, saat ini ada 19.240 desa di 32 provinsi yang sedang mengalami konflik atas kawasan hutan. Batasan antara hutan masyarakat dan hak pengelolaan yang diberikan kepada sektor bisnis masih sering tumpang tindih.

Sementara itu, organisasi Rights and Resource Initiative malah mencatat ada 26 ribu desa di Indonesia yang tengah berebut jutaan hektar lahan hutan
. Dan terdapat 85 konflik lahan yang berakhir dengan kekerasan terjadi di 33 provinsi di Indonesia tahun ini — naik dari hanya 50 pada tahun lalu.

Ironis bukan..??


Lalu akankah kita hanya diam menyaksikan kepunahan masyarakat-masyarakat adat ini? Atau memang benar, mereka hanyalah alien-alien yang tidak memiliki peranan penting dalam siklus hidup di alam ini?

Akankah kita menjadi saksi sejarah punahnya 70 juta masyarakat adat ini? Dan sejauh mana modernitas hidup menggiring kita jauh dari keramahan alam selama ini, sampai kita mengabaikan eksistensi mereka? Padahal ancaman dari kepunahan mereka, adalah akibat dari globalisasi dunia yang lebih banyak bersumber dari buruknya gaya hidup masyarakat modern yang tidak bersahabat dengan alam. Dan ketika alam memberontak, maka calon korban terbesar dari  amukan alam adalah Masyarakat-Masyarakat Adat ini, yang sebenarnya masyakat yang paling damai hidup bersama alam, karena kehidupannya masih tergantung dengan hutan, yaitu ekosistem hutan yang berada di wilayah adat mereka.

Padahal bijaknya, banyak nilai-nilai kearifan lokal dari cara hidup mereka yang berdampingan dengan alam, bisa menjadi kiblat hidup bagi kita semua. Bahwa seharusnya cara hidup Masyarakat adat inilah yang harus kita tiru dan kita sosialisasikan pada kehidupan-kehidupan masyarakat yang terus berlanjut. 

RITUAL KEJUJURAN
BULUKUMBA, SULSEL - Pemuka adat Kajang menyentuhkan kakinya dengan besi panas untuk meyakinkan kejujurannya di kawasan adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, Sabtu (23/10). Masyarakat adat Kajang merupakan masyarakat adat yang menjauhkan diri dari modernitas dan menutup diri dengan kehindupan masyarakat luar. FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/IP/10.


Sayangnya di negeri kita ini, keberadaan masyarakat adat ini sangat lemah. Bahkan Ketua Dewan Kehutanan Nasional Hedar Laujeung merujuk salah satu sumber masalah pengelolaan hutan pada perundang-undang yang berbias kolonial dan tidak ramah terhadap masyarakat setempat. Hutan langsung dianggap sebagai tanah negara. Padahal, Forum PBB untuk Hutan (United Nations Forum on Forests) sudah menegaskan,

“Di mana ada hutan, pasti ada manusia di sana. Komunitas masyarakat adat di sekitar hutan sudah secara tradisional dan akan terus menjadi pemangku kepentingan utama."

Tetapi, menurut Hedar, hak-hak masyarakat atas hutan selama ini tidak diakui. Padahal mereka sudah bermukim di hutan sebelum republik ini didirikan.

Sudah menjadi fakta, sebagian wilayah Indonesia terdiri banyak hutan yang dihuni dan dipelihara oleh para Masyarakat adat ini secara tidak langsung. Karena mekanisme hidup masyarakat hidup ini sangat tergantung pada hutan.  Wilayah hutan adat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan komunitas masyarakat adat sebagai penghuninya. Pada umumnya komunitas masyarakat adat memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang harus saling memelihara dan menjaga keseimbangan dan harmoni di antara keduanya. Singkatnya, keberadaan dan peran masyarakat adat terlalu besar untuk diabaikan oleh para pemangku kepentingan baik di level lokal, nasional maupun global. Dan sayangnya, hutan yang merupakan surga kehidupan bagi Masyarakat adat ini, mulai teracam akibat dari perubahan iklim. 

Baru-baru ini, sebuah gerakan international dengan misi melindungi hutan dari pengurangan akibat globalisasi dunia yang mengakibatkan perubahan iklim yang ekstrim yang dikhawatirkan akan berdampak buruk pada hutan-hutan yang ada di dunia. Mereka kemudian mengeluarkan progam  REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) atau program upaya pengurangan emisi yang diakibatkan oleh deforestasi dan degradasi hutan.




Jika melihat skema kerja REDD, dimana negara-negara industri akan membayar insentif kepada negara-negara pemilik hutan yang memelihara hutan untuk menyerap karbon. Maka ini bisa dijadikan momentum oleh masyarakat adat di seluruh pelosok nusantara untuk menunjukkan eksistensinya, tidak hanya sebagai korban dan calon korban dari dampak perubahan iklim. Akan tetapi yang paling penting adalah menunjukkan bahwa ada atau tidak skema perubahan iklim (termasuk REDD dan REDD+), ada atau tidak ada permintaan, masyarakat adat telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan penyelamatan dari pengurangan-pengurangan hutan.

Tapi tentu saja, diperlukan peranan luar biasa dan tidak biasa dari pemilik penguasa negeri ini dan kelompok komunitas-komunitas yang peduli pada keberadaan masyarakat adat ini, untuk membantu mereka, agar bagaimana masyarakat adat ini tetap terlindungi, dan mendapatkan manfaat yang nyata dengan adanya REDD dan REDD+ ini.

Tidak sebaliknya menjadikan keberadaan masyarakat adat hanya untuk mengambil keuntungan dari program REDD dan REDD+ demi kepentingan pribadi dan kekuasaan kelompak-kelompok tertentu, sehingga hal dasar yang menjadi tujuan utama dari program REDD dan REDD+ dan tidak dinikmati oleh Masyarat adat sebagai kelompok yang paling berjasa dalam menyelamatkan hutan-hutan.

Dan moment ini bisa dijadikan introspeksi nasional, bahwa masyarakat adat bukanlah 'alien' di tengah globalisasi dunia, tapi bak 'hero' yang kini sedang sekarat, terancam punah karena perubahan iklim akibat dari gaya hidup sebagian besar kita yang terlampu menjadikan kehidupan modern sebagai  life mindset untuk bertahan hidup.

Masyarakat adat yang bak ‘Pahlawan alam’ yang terlupakan oleh kita semua. Dan semoga kita tidak menjadi pahlawan kesiangan untuk mereka.


Makassar, 15 April 2013
oleh : Mhimi Nurhaeda Demmu 

Tulisan ini diikut lombakan pada "Kompetisi Penulisan dengan tema 'Masyarakat Adat Sulawesi, Dampak Perubahan Iklim dan REDD+

Sumber tulisan : 

http://sulawesiwisdom.blogspot.com/
http:www.Lylpop.com
www.Antaranews.com,
www.jurnal-celebes.com
www.kompas.com
www.forestsclimatechange.org.
www.rumahiklim.com
http://id.berita.yahoo.com/tak-pernah-jadi-majikan-di-hutan-sendiri.html



14 April 2013

:: Journey ::

" Kelak, salah satu dari anak-anak kita, akan kuberi nama Journey.. "


Kalimat tersebut di atas saya ucapkan, sesaat setelah melihat pertama kali novel saya yang berjudul "JOURNEY" berjejeran rapi disalah satu toko buku terkenal. Meski sampai sekarang, saya tidak tahu pada siapa kalimat tersebut saya sampaikan. Karena saya hanya sepontan begitu saja mengatakannya sendiri, tidak tertuju pada siapapun. Kalau toh saya menggunakan kata 'kita' karena saya memang tidak bisa memproduksi anak seorang diri kan...?? hihihihihihi... 

Saya jatuh cinta dengan nama ' Journey' tidak hanya karena Journey menjadi salah satu judul novel saya. Tapi nama 'Journey' selalu mengingatkan saya tentang banyak hal. Terutama tentang proses perjalanan hidup yang membuatku masih berpijak berdiri tegap hingga saat ini.. 

Saya adalah tipikal manusia yang tidak terlalu peduli pada 'Hasil akhir' saya lebih menghargai sebuah proses, bagaimana sebuah hasil akhir melalui sebuah proses perjalanan menuju sebuah akhir. Saya selalu tertarik pada semua hal yang berkaitan dengan proses, bagaimana sebuah proses itu bercerita, membuka pintu-pintu perjalananan, merangkai satu persatu jalinan cerita, untuk kelak dikisahkan pada hasil akhir yang dituju. Meski berangkali hasil akhir tidaklah seperti yang diharapkan, tapi "proses" yang telah dilalui akan menjadi sebuah kisah sendiri yang memiliki keabadiannya sendiri pula.


Kembali pada 'Journey', minggu kemarin, Journey baru saja re-stock untuk memenuhi beberapa permintaan stok buku Journey yang sudah mulai kosong. Sejujurnya, ini menyenangkan, mengetahui banyak yang menyukai Journey. Meski untuk session duanya agak tersendat karena kesibukan yang menggila, yang bikin ikutan gila. Tapi sebisa mungkin, dan seharusnya mungkin saya akan menyediakan waktu, memberi waktu yang luang-seluangnya untuk menyelesaikan Journey session dua, ditengah-tengah proses penulisan novel kimia hukum saya (dibaca skripsi) bisa kelar tahun ini. 



Journey session dua plus Skripsi kelar sebelum akhir tahun ini...?? MARII BEKERJA KERAS, Mhi..!!!!