31 Oktober 2016

Too much SOSMED will kill you!!

Hai, tema tantangan tulisan episode kali ini bertema tentang dari dunia maya ; Sosmed.

Suatu hari dalam percakapan random dengan beberapa orang dan diberbagi tempat dan lokasi, Saya sering kali dipertemukan pertanyaan seperti ini :

              “ Napa, sih loe Mhi. Sosmed loe kesannya private banget deh, IG di gembok, Path ngga semua bisa add, FB apalagi, nge add BBM loe susahnya minta ampun. Line apa lagi. Belum Whatsapp Loe batasi siapa-siapa yg bisa ngeliat PP loe...”


Well, sebenarnya Saya bukan mau sok gimana yah di dunia maya, khususnya pergaulan di sosmed. Bukan apanya sih yah, Saya dulu punya pengalaman buruk soal sosmed. Waktu photo-photo Saya yang terposting di FB dicomot oleh orang sinting yang menjadikannya cover video porno. Saat itu Sayaemang belum memakai hijab. Tapi sebenarnya sih, meski ngga pake hijab, Saya emang ngga pernah posting poto2 yang melampui batas aurat Saya sebagai perempuan. Kecuali rambut saat itu yah. Malah penampilan Saya sebenarnya rada-rada tomboy saat itu. Tapi dasar orang gila yah, tetap aja memajang poto-poto Saya disitus-situs porno, dan akhirnya saya kebanjiran email-email horror permintaan bobo bareng  -,-

Sampe sekarang, meski sudah tahu siapa orang itu, tapi saya ngga pernah berhasil ketemu dia di dunia nyata, kalau sampai saya ketemu, Saya yakin orang itu akan Saya bikin gila benaran,hahahha…

Saya dendam ? iyalah…..

Karena gara-gara kejadian itu, Saya sampe parno bersosmed, sempet vakum beberapa lama. Dan bener-bener mensortir pertemanan Saya di sosmed dan beberapa sosmed yang Saya punya sekarang semacam mati suri. Kayak FB.

FB Saya sekarang kayak mati suri. Saya buka biasanya lewat opera mini doang, itu pun kalau ada something urgent yang membuat Saya harus membuka  FB. Selebihnya Saya anggurin lagi.

Tapi sebenarnya Saya mendapat banyak hikmah dan pelajaran maha penting dari kejadian dengan orang sinting itu. Setidaknya, dari kejadian itu Saya secara tak langsung mendapatkan ilmu soal IT, khususnya dalam jejaring social.

Kejadian itu juga menghantarkan Saya pada interaksi beberapa orang yang pandai melacak kelakuan-kelakuan orang di dunia maya.  Bagaimana mengetahui siapa pelakunya, dan sebagainya.

Ini Saya anggap sebagai bonus besar buat Saya. Setidaknya ke-gaptek-an Saya di dunia IT tidak semakin parah, malah berkat kejadian itu Saya sempet nyaris membuka kedok orang gila. Sayangnya, orang gila itu lebih gila sih. Bagaimanapun yang waras ngalah bukan ? :p *ngeles*

Semoga cerita singkat pengalaman Saya di dunia sosmed, bisa memberi pelajaran sendiri buat-buat teman-temen yang kebetulan nyasar membaca tulisan ini.  

Sebelum catatan ini berakhir, saya ingin katakana bahwa tidak semua hal-hal yang kita alami di dunia nyata harus digembor-gemborkan di Sosmed, terkadang. Ada persoalan real yang memang harus diselesaikan di dunia yang lebih nyata, ketimbang harus mengobralnya di Sosmed.

Bagaimanapun sosmed adalah panggung kita masing-masing. Kita bisa jadi Sutradaranya bahkan  bisa jadi tukang pel panggungnya sekaligus. 


Tapi berangkali kita sama-sama bisa sepakat, bahwa tidak semua kisah dibalik panggung harus dipentaskan di atas panggung bukan ? :')





Cheers 

MN



2 komentar:

  1. setuju sm kalimat paling terakhir, kalo aku ngibaratin dengan kamar, gak semua orang boleh liat dan tau isi di balik pintu kamar kita :D

    BalasHapus
  2. Intinya masalah lo nggak akan kelar meski dapat ribuan like di sosmed ahahahaha

    BalasHapus